Perjuangan Membuat SIM C

sim sensor

“Ahh… ngapain sih lu bolak-balik mulu polres tiap Sabtu? kiyengan temen. Bikin SIM dibantu aja biar cepet.”.

Kalimat itu yang selalu terdengar ketika teman berkomentar tentang aktivitas baruku di hari Sabtu dalam dua bulan terakhir ini. Yup tiap Sabtu ke Polres untuk mengikuti proses ujian SIM. Sebenarnya sudah punya SIM tapi tanpa sadar expired hampir 1 tahun. OMG :D

Sebagai makhluk idealis aku merasa perlu membuktikan pada semuanya bahwa bisa kok melewati birokrasi negara tercinta tanpa “bantuan”.

Yahh.. walaupun sampai saat ini belum berhasil tapi aku takkan menyerah. Aku nikmati prosesnya. Rasa sedih saat nilai ujian teori hanya benar 16 dari 30 soal, kemudian bahagia karena naik menjadi 19 soal dan akhirnya 21 soal sebagai passing grade kelululusan uji teori.

Menikmati saat deg-degan menghadapi ujian praktek. Gemes-gemes seru ketika tidak bisa melewati rintangan zig-zag rubber cone atau parahnya sudah berhasil sampai rintangan berbentuk angka delapan tiba-tiba braaakkk.. pijakan bonceng sebelah kiri belum ditutup dan menabrak patok-patok bambu. Ya ampun Emaaakkk… rasanya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Selama mengikuti ujian praktek sebanyak 3 kali belum seorangpun dari total peserta yang berhasil lulus, yes berarti ini bukan faktor skill buruk tapi faktor grogi juga berperan. Entah grogi atau apa itu namanya, feel nya beda ketika kita sedang ujian dengan naik motor biasa di jalan raya.

Boleh lah kita merasa jago di jalan, tapi lo belum keren kalo belum berhasil lewatin itu rintangan praktek uji SIM. Aku juga merasa “Busyet kok muter-muter gitu doang gagal mulu ya”.

Heran kenapa Pak Polisi yang mencontohkan ujian praktek SIM selalu berhasil mulus. Apa rahasianya Pak? jangan-jangan Pak Polisi pakai sepatu anti gravitasi? kok kakinya gak pernah napak tanah kayak kita-kita yang jadi peserta?

Aku ikut ujian SIM dengan persiapan penuh. Segala macam try out aku ikuti. Mulai dari download soal-soal teori uji SIM sampai membuat barisan ember di halaman pengganti rintangan rubber cone. Tetangga yang melihatku muter-muter di halaman sampai heran setengah takjub :D

But yeah masih belum berhasil.

Sabtu ini aku akan coba lagi. Prosesnya mengulang dari awal, teori kemudian praktek. Semoga kali ini ujian teori langsung berhasil dan tidak perlu mengulang nilai 16, 19, 21. Dan yang terpenting adalah berhasil melewati semua rintangan di lapangan praktek.

Wish me luck. :D

 

Update :

Gagal maning – gagal maning Son. Berarti sampai saat ini sudah 3 kali gagal mengikuti ujian SIM. It means gagal di ujian praktek sebanyak 3 kesempatan  x 3 = 9 kali.

Kapan coba lagi? entah, rasanya setengah bosan tiap weekend harus ke Polres dan muter-muter rubber cone.

 

Update :

Pada hari ini Senin, 07 Agustus 2017 saya berhasil mendapatkan SIM C yang selama hampir satu tahun saya perjuangkan. Jujur saya kibarkan bendera putih jika harus mengulang lagi ujian praktek. Rasanya 9 kali kegagalan sudah cukup menjawab saya penasaran saya.
Pada akhirnya saya menyerah dan minta bantuan.

Moral of story :
Perjuangkan dulu keinginan kita sebaik mungkin, coba dan coba lagi. Sekalipun pada akhirnya menyerah, paling tidak kita punya kenangan yang bisa diceritakan kepada anak cucu kelak. “Nak, Cu, nenekmu ini dulu pernah bikin SIM C gagal prakter sebanyak 9 kali” :D

 

 

One Response to Perjuangan Membuat SIM C

  1. mastahcode August 22, 2017 at 8:34 pm #

    turut prihatin dan bangga mbak yu,
    sekedar curhat juga. dlo sya bikin SIM jga Test tanpa NYOGOK Polis*.
    saya dateng d hri jumat. mengikti test tertulis + siap-siap ikut test praktek. tapi karna hri jumat ada ritual Jumatan. maka pak polisi yg nge test meluluskan saya seorang diri. karna hanya saya yang kukuh gak mau NYOGOk n akhirnya pak polisine yg ngalah gak mau ribet nge test saya. alhamdulillah gara-gara jumat barokah….. xixi

Leave a Reply

Keriput adalah garis-garis kebijaksanaan :-)