Petualangan Anak-anak Kepo

Judul Asli: The Mystery Of The Burnt Cottage

Penulis : Enid Blyton

Judul Terjemahan : Pasukan Mau Tahu, Misteri Pondok Terbakar

Penerjemah : Agus Setiadi

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit : Cetakan keenam, Februari 2000

Jumlah halaman : 204

ISBN : 979-655-498-4

Anak-anak memiliki rasa ingin tau yang tinggi. Banyak hal yang ingin mereka ketahui bahkan terhadap hal-hal yang berbahaya seperti dalam cerita novel ini. Cerita petualangan anak-anak yang dikemas secara sederhana dan mudah dipahami. Kita akan menemukan cerita lucu khas ‘ulah’ anak-anak yang akan membuat tersenyum sekaligus mendebarkan.

Berawal dari peristiwa kebakaran di pondok milik Pak Hick menghebohkan warga sekitar malam itu. Tidak terkecuali anak-anak. Mereka ingin tau bahkan ingin menyaksikan kebakaran itu dari dekat. Terang saja polisi desa yang saat itu berada di lokasi kebakaran melarang mereka dan meminta agar mereka pergi. Rupanya peristiwa kebakaran ini menarik perhatian bagi Lary dan teman-temanya. Mereka mau tau dan ingin menyelidiki penyebabnya terjadinya kebakaran. Untuk menjawab rasa ingin tau tersebut maka dibentuklah Pasukan Mau Tahu yang terinspirasi dari film tentang detektif. Pasukan ini beranggotakan lima anak yang berusia delapan sampai tiga belas tahun, mereka adalah Laurence Daykin(Lary), Margareth Daykin(Daisy), Philip Hilton(Pip), Elisabeth(Bet), dan Frederick Algernon Trotteville(Fatty) serta anjingnya yang bernama Buster.

Lary dan Daisy adalah kakak beradik, Lary berusia tiga belas tahun dan Daisy berusia dua belas tahun. Begitupula dengan Pip dan Bet, mereka juga kakak beradik. Fatty dan Buster adalah teman baru yang kebetulan sedang menikmati liburan di desa mereka. Mereka berbagi tugas dalam penyelidikan dan mulai mengumpulkan petunjuk yang diperoleh dari para pekerja di rumah Pak Hick. Uniknya mereka tidak mau kalah dengan Pak Goon, polisi desa yang juga sedang menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.

“ Sebaiknya Pak Ayo Pergi jangan sampai tau bahwa kita menyelidiki misteri ini,” kata Pip.

“Pak Ayo Pergi? Siapa itu?” tanya Fatty dengan heran.

“Pak Goon, polisi galak yang kau sebutkan tadi. Dia kan selalu berteriak-teriak, Ayo Pergi! karena itu ia kami juluki Pak Ayo Pergi!”, kata Daisy menjelaskan.

Dari cuplikan dialog di atas tergambar betapa lucunya mereka. Memberi julukan pada Pak Goon dengan menyebutnya Pak Ayo Pergi. Barangkali kita pun pernah melakukan hal yang sama ketika masih kecil, seperti saya yang menyebut salah satu driver dengan julukan Pak Boxi yang berarti botak seksi karena pak driver berkepala botak.

Petualangan seru mereka dimulai dengan menyelidiki sekitar pondok Pak Hick yang terbakar. Mereka memperhatikan jejak sepatu dan ilalang yang roboh tak jauh dari pondok tersebut yang seolah-olah merupakan jejak dari si pembakar pondok yang bersembunyi setelah melakukan aksinya. Tidak hanya itu, mereka juga menemukan robekan kain flanel yang tersangkut pada duri tak jauh dari tempat ditemukannya jejak sepatu.

Mereka membuat daftar nama tersangka berdasarkan petunjuk-petunjuk yang mereka temukan kemudian menyelidiki nama-nama tersebut. Mulai dari Bu Minns, juru masak Pak Hick. Horace Peeks, karyawan Pak Hick yang dipecat pada siang hari sebelum kebakaran terjadi. Pak Smellie , seseorang yang pendapatnya sering bertentangan Pak Hick. Tak terkecuali gelandangan tua yang pada hari itu berada di rumah Pak Hick dan dituduh mencuri telur ayam. Menurut mereka diantara keempat tersangka tersebut mungkin salah satunya menaruh dendam terhadap Pak Hick karena karakter Pak Hick yang pemarah.

Penyelidikan dimulai dari Bu Minns, mereka mendatangi rumah Pak Hick dan berbincang dengan Bu Minns. Bu Minns ternyata sangat menyenangkan dan suka mengobrol dengan anak-anak. Menurut cerita Bu Minns, Horace Peeks lah yang paling pantas dicurigai sebab siang hari sebelum kebakaran itu terjadi Peeks bertengkar dengan Pak Hick. Namun Lily yang juga bekerja di rumah Pak Hick menyangkal tuduhan Bu Minns terhadap Peeks. Menurut Lily, Horace Peeks adalah orang yang baik dan tidak mungkin melakukan kejahatan itu. Memang siang hari sebelum terjadinya kebakaran, suasana di rumah Pak Hick sangat kacau. Pak Hick memarahi Bu Minns, bertengkar dengan Horace Peeks, berselisih paham dengan Pak Smellie, dan mengusir gelandangan yang dituduh mencuri telur ayam.

Berbekal cerita Bu Minns, mereka selanjutnya mencari gelandangan yang dituduh mencuri telur. Disinilah kelima anak tersebut memulai petualangan yang lebih serius. Dengan mengendap-endap mereka mendekati gelandangan yang siang itu tengah tertidur di sebuah gubuk dan mengintip sol sepatu yang dipakai oleh gelandangan itu. Mereka kaget Karena gelandangan itu tiba-tiba terbangun. Semua bersembunyi namun sayang Fatty terjatuh dari tumpukan jerami tempatnya bersembunyi. Tubuh gemuknya menyentuh tanah dengan bunyi yang cukup keras, seperti buah nangka jatuh. Penyelidikan mereka terhadap gelandangan tidak membuahkan hasil, bentuk sol sepatu yang dipakai oleh gelandangan itu berbeda dengan jejak sepatu yang mereka temukan.

Selanjutnya mereka menyelidiki Horace Peeks dan Pak Smellie. Saat menyelidiki Pak Smellie, ulah lucu anak-anak dan terjadi kembali. Fatty dan Lary menyelinap ke rumah Pak Smellie dan mencari sepatu yang solnya sama dengan jejak sepatu yang mereka temukan. Lary tertangkap oleh Pak Smellie dan dikurung di lantai atas rumahnya. Fatty bersembunyi di dalam lemari sebelum akhirnya terjatuh(lagi) saat akan berlari menuruni tangga.

Fatty yang kesakitan akhirnya ditolong oleh Pak Smellie. Pak Smellie kaget karena melihat memar di tubuh Fatty yang cukup banyak. Fatty yang saat itu antara menahan sakit dan ketakutan berusaha mengancam Pak Smellie akan melaporkan kepada polisi dengan tuduhan pemukulan terhadap anak-anak. Rupanya Pak Smellie tak kalah cerdas dari anak itu, Pak Smellie tau bahwa warna luka memar di tubuh Fatty bukanlah warna luka memar yang baru. Muka Fatty langsung memerah karena kebohongannya diketahui oleh Pak Smellie, luka memar itu bukan karena terjatuh dari tangga tetapi akibat terjatuh dari jerami beberapa hari sebelumnya saat bersembunyi dari gelandangan. Akhirnya Fatty mengaku kepada Pak Smellie bahwa tujuannya adalah mencari sepatu yang terkait dengan kebakaran di rumah Pak Hick. Lary yang saat itu masih berada di lantai atas dibebaskan oleh Pak Smellie dan kini mereka berdua yang akan dilaporkan oleh Pak Smellie kepada orang tua mereka.

Pada akhir cerita, saat mereka hampir putus asa terhadap penyelidikan yang tak juga membuahkan hasil, tiba-tiba Buster menemukan sepatu yang selama ini mereka cari. Ternyata sepatu itu adalah milik Pak Hick sendiri. Ia juga yang dengan sengaja membakar pondok miliknya agar mendapatkan ganti rugi dari pihak asuransi. Konflik yang terjadi di rumah Pak Hick siang itu juga merupakan taktik yang telah dirancang untuk mengelabuhi orang-orang sehingga mereka akan mencurigai salah satu dari karyawannya. Namun kejahatan Pak Hick terbongkar berkat Pasukan Mau Tau.

Novel ini cocok untuk dibaca oleh anak-anak atau orang tua sebagai referensi cerita pengantar tidur. Ternyata kepo itu penting juga ya :-) .

No comments yet.

Leave a Reply

Keriput adalah garis-garis kebijaksanaan :-)