TANTE CANTIK MISTERIUS

Judul : Lalita

Penulis : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit : Cetakan pertama, September 2012

Jumlah halaman : X + 251

ISBN 13 : 978-979-91-0493-9

Lalita, orang menyebutnya indigo. Terlihat berusia akhir tiga puluhan atau bahkan lebih. Wajahnya selalu tertutup riasan. Bibir yang dilukis dengan lipstik, bulu mata lentik dengan berbagai sepuhan rona ungu tembaga. Semua pada wajah itu dilukis dan dibubuhkan dengan sangat rapi sehingga membentuk topeng cantik. Begitulah kira-kira gambaran tentang Lalita. Dalam novel ini diceritakan bahwa Lalita mengaku memiliki past life dan pernah hidup di masa pembangunan candi Borobodur. Kisah dalam novel ini tentunya “berbumbu” khas novel Ayu Utami yang bernuansa sedikit “panas”.

Sandi Yuda, seorang pemuda pemanjat tebing yang kebetulan ikut mendatangi pameran foto yang dirancang oleh Lalita. Kedekatannya dengan Lalita berawal dari sebuah insiden pada pembukaan pameran. Yuda menyelamatkan Lalita dari pelemparan gelas anggur malam itu. Nuansa “panas” dalam novel ini salah satunya tergambar pada cerita saat Lalita memberi hadiah “sensasi tutup sampanye” kepada Yuda sebagai ucapan terima kasih telah menyelamatkanya. Sebagai novel yang memasukkan unsur sejarah, rupanya novel Lalita tidak mudah untuk dicerna. Banyak alur cerita yang diulang-ulang bahkan dengan menggunakan kata-kata yang sama persis dengan alur sebelumnya.

Novel ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu  Indigo, Hitam, dan Merah. Indigo menceritakan tentang Lalita dan Yuda, begitu juga dengan Marja Manjali dan Parang Jati. Marja adalah pacar Yuda dan Parang Jati adalah sahabat Yuda yang sama-sama menyukai panjat tebing. Diceritakan bahwa Parang Jati memiliki jari dua belas dan bermata bidadari. Ia  juga menyukai Marja. Dari ketiga bagian itu, Hitam adalah bagian yang paling sulit dipahami. Pada bagian ini menceritakan tentang kakek Lalita yang kisah hidupnya tertulis dalam sebuah buku yang bernama Buku Indigo. Didalamnya terdapat teori-teori psikoanalisis yang penyajiannya berat seperti membaca sebuah karya ilmiah. Entah mengapa Ayu Utami  menelan “mentah” teori-teori tanpa menyederhanakannya dalam alur yang lebih mudah dipahami.

Terlepas dari alur yang berputar-putar dan memakan “bandwidht” otak, novel Lalita menyajikan sisi petualangan dan teka-teki. Cerita perebutan Buku Indigo  antara Lalita dan kakaknya yang bernama Jataka yang menyebabkan Lalita mengalami penganiayaan di rumahnya. Buku Indigo hilang. Hilangnya Buku Indigo akan membuat pembaca menebak-nebak pencurinya. Awalnya kita akan menduga pelakunya adalah Jataka tetapi diluar dugaan pelakunya adalah Jisheng. Ia adalah pemuda Singapura yang juga teman Yuda. Diam-diam Jisheng menjadi informan untuk pemerintah RRC yang juga menginginkan Buku Indigo. Sudah cukup lama Jisheng mengincar Lalita tetapi Lalita tidak tertarik padanya. Ia tak punya tampang untuk ditawarkan. Tapi melalui Yuda, ia tau alamat dan denah rumah Lalita lalu berhasil mengambil Buku Indigo. Sedangkan Jataka ingin merebut Buku Indigo karena tergiur oleh tawaran dari Balai Lelang Christie’s. Jika Buku Indigo itu asli maka Christie’s berani menawarnya dengan harga tinggi. Jisheng memberikan Buku Indigo yang ia curi kepada Marja setelah sebelumnya mengcopy informasi dalam buku itu. Jisheng percaya kepada Marja.

Sayangnya, novel ini memberikan ending yang tidak jelas. Lalita sebagai tokoh sentral tidak diceritakan lagi setelah peristiwa penganiayaan. Entah Buku Indigo itu pada akhirnya akan diapakan. Mestinya Ayu Utami bisa menutup cerita dengan lebih berkesan seperti pada novel-novel sebelumnya.

Menurut pandangan saya, novel ini bisa dijadikan pilihan apabila pembaca ingin mengulang pelajaran sejarah candi Borobudur dan Budhisme namun bila tidak menyukai penyampaian yang terlalu “eksak”  maka novel ini tidak disarankan.

 

No comments yet.

Leave a Reply

Keriput adalah garis-garis kebijaksanaan :-)